Friday, 1 October 2010

Resensi Film Sang Pencerah. FPI harus nonton ini

Ok, seharusnya film sejarah ya seperti ini.  Karena sepanjang nonton saya mengangguk-angguk dalam hati.  Oh ini toh yang namanya Kiai Haji Ahmad Dahlan, saya cukup sering lewat jalan K.H A. Dahlan, pernah dengar, tapi ya segitu aja.  Ternyata Islam, di Kauman circa hidupnya Ahmad Dahlan mirip dengan kisah Yesus.  Sama-sama diasingkan, di cela, kemudian membuat pencerahan pada masanya.  Ternyata Muhammadiah yang saya tidak mengerti dan anggap kolot, konon sangat moderen, "agamamu agamamu, agamaku agamaku."  Isu yang diangkat Hanung juga ok dan berlangsung sampai kini, masalah sesajen atau dibangunnya Masjid berdasarkan geografi tata jalan, masih 'in' banget sampai kini.  Hanya kini bukan soal sajen tapi lebih ke menjilat atau kolusi dan korupsi.  Kalau masjid dan jalan, saya memparalelkannya dengan FPI dan kelakuan mereka.

Saya paling suka bahasa filmis Hanung ketika masjid besar di keraton dimasuki empat pemuda bermodal kapur.  Mereka berpihak kepada Dahlan yang berpendapat kalau kiblat semua umat di Kauman itu salah, kurang 23 derajat.  Maka di malam hari masuk pemuda yang sibuk menggarisi lantai masjid dengan kemiringan yang dimaksud Dahlan.  Ciamik.  Mungkin Hanung risetnya benar dan sedalam itu, tapi dugaan saya sih, itu hanya cara dia menyampaikan maksud tertentu.

Hanung memang pandai berjanji, pandai mengumbar kepercayaan penonton terhadap film nasional.  Dari Catatan Harian Sekolah sampai Ayat-ayat Cinta dia begitu.  AAC yang premisnya pola pikir primitif juga enjoyable aja tuh buat ditonton, nggak bikin parno buat nonton film Indonesia lah.  Dan Sang Pencerah membuatku memaafkan Hanung untuk AAC.

Dalam Sang Pencerah, Hanung benar berani mempertanyakan nilai-nilai Islam dan yang tak kalah pentingnya: tradisi.  Sesuatu yang sangat mudah dicerna.  Film wajib buat mereka yang mengaku FPI, supaya santai sedikit.

Tontonlah film bersejarah ini, tentang sejarah maksudnya, sejarah Muhammadiah.  Kalau ada film N.U saya juga mau nonton.  Bikin dong Hanung, you got the religion issue market putty in your hands.

No comments:

Post a Comment